Sabtu, 27 April 2013

Bom Panci: The Conspiracy


Bom Panci: The Conspiracy
Beberapa hari ini dunia dihebohkan oleh berita tentang dua unit panci yang meledak di kerumunan orang yang sedang menyaksikan lomba maraton tahunan di Boston, Amerika Serikat. Panci yang meleduk itu bukan panci yang lagi digunakan memasak bakso, tapi panci itu adalah jenis panci tekan (pressure cooker) yang sudah diisi bubuk mesiu dan dicampur dengan paku dan gotri. Akibatnya 3 orang tewas,  ratusan luka-luka. Amerika pun spontan kaget. Mereka tidak percaya, negara yang dipercaya sebagai tempat yang adem ayem, aman-tentram, karto raharjo, gemah-ripah serta loh jinawi itu ternyata terkoyak juga oleh aksi teror. Bagaimana tidak?  Sejak kejadian 11 September 2001, screening yang dilakukan aparat AS terhadap segala individu yang “kira-kira” punya potensi menjadi bahan peledak, amat-amat sangat ketat sekali. Sehingga bisa dijamin sang individu dengan ciri-ciri tersebut tidak akan bisa melewati imigrasi USA.



Hanya beberapa saat setelah pengeboman itu, media Amerika lantas melansir berbagai spekulasi, siapa pelaku ledakan tsb. Ada yang berspekulasi bahwa pelakunya adalah teroris kawakan, ada juga yang mengatakan pelakunya adalah organisasi sayap kanan Amerika. Tentu saja, Al Qaeda tak luput dari tuduhan. Tapi para analis meragukan kalau tindakan itu adalah hasil karya Al Qaeda, mengingat pola serangannya berbeda. Al Qaeda punya ciri khas melakukan teror dengan teknik bunuh diri atau bom bunuh diri. Dalam buku panduan Al Qaeda, entah itu targetnya satu orang atau dua ribu orang, metode pengeboman yang digunakan adalah pelakunya harus ikut gugur dalam tugas. Sementara di kejadian di Boston, tidak ada serpihan tubuh manusia akibat bom bunuh diri.

Bagaimana dengan Taliban? Taliban termasuk kelompok yang paling pertama menyangkal keterlibatannya dalam serangan itu. Mungkin mereka sudah trauma, gara-gara WTC runtuh tahun 2001 lalu, lantas Taliban dijadikan pelampiasan kemarahan Amerika. “Wah, jangan sampai Amerika ngamuk lagi di Afghanistan, hanya gara-gara panci meletus”. Begitu mungkin para pentolan Taliban bermusyawarah.



Sebelum spekulasi berkembang lebih jauh, aparat berwenang Amerika, dalam hal ini FBI, cepat-cepat bertindak. Gampang saja. Seluruh kamera yang secara sengaja atau tidak sengaja merekam acara maraton itu diminta untuk dianalisa FBI. Hasilnya pun dengan cepat diperoleh. Pelakunya adalah dua orang pemuda bertopi hitam dan satunya bertopi putih. Gambar kedua orang itupun lantas disebar ke berbagai media dan masyarakat dihimbau bantuannya.

Tidak sampai 2 jam, indentitas pelaku akhirnya diketahui berkat laporan dari masyarakat. Ternyata pelaku adalah dua kakak beradik Tamerlan Tsarnayev dan Dzokhar Tsarnayev. Pencarian besar-besaran pun segera dilakukan. Pada saat yang bersamaan di Massacuchet Institute Technology (MIT), di mana keduanya bersembunyi, ada seorang satpam, Sean Collier, yang mengetahui keberadaan kedua tersangka di area kampus. Instink security Sean muncul begitu melihat kedua kakak beradik tsb. Seperti di film-film Holywood, kedua tersangka pun melakukan perlawanan dan berakhir dengan tertembaknya si satpam, yang akhirnya tewas di tempat.




Kemudian kedua tersangka merampas sebuah mobil yang sedang berhenti dan masih ada pengemudinya. Mereka membajak mobil SUV tersebut dan mengajak sang pengemudi berkeliling kota. 30 menit kemudian si sopir disuruh keluar dan mereka pun kabur. Begitu bebas, sopir yang sekaligus pemilik mobil itu langsung mengontak polisi. Kejar-kerjaran pun terjadi sampai masuk wilayah Watertown. Kedua Tsarnayev melawan habis-habisan menembaki polisi sambil melemparkan panci-panci yang sudah dirakit menjadi bom.  Tapi anehnya panci-panci itu tidak meledak. Klontang... klontang... begitu bunyinya. Sama seperti di Indonesia, klontang.... klontang juga bunyi panci jatuh.

OK. Kita lanjut. Karena terpojok dan kehabisan peluru, keduanya lantas kabur meninggalkan mobil dan berlari dalam kegelapan malam. Polisi-polisi pun dengan semangat terus mengejar keduanya. Apalagi mereka sudah terkena tembakan dan tak mungkin lari jauh. Beda dengan polisi Indonesia yang lebih suka langsung menembak tersangka terorisme yang sudah terluka, polisi amerika lebih suka balapan lari dulu dengan para pelaku kejahatan yang melarikan diri. Karena kalah jumlah, Tamerlan yang sehari-hari berprofesi sebagai petinju, terpojok di suatu tempat.   Menurut SOP polisi amrik, buronan yang sudah terpojok harus ditabrak bodinya sampai jatuh telungkup di atas tanah. Maka para polisi itupun berebut menabrak Tamerlan yang bertampang ganteng itu sampai terjerembab di atas rerumputan halaman rumah orang. Kasihan.



Ketika para polisi berusaha memborgol Tamerlan, tiba-tiba dari kegelapan sebuah mobil menderu, mengebut, melaju ke arah mereka. Ternyata mobil itu adalah mobil SUV yang dibajak tadi dan ternyata adik Tamerlan, Dzokhar ada di dalamnya mengemudikan mobil tsb. Dengan kecepatan penuh mobil tersebut melaju ke arah para polisi yang sedang sibuk hendak memborgol Tamerlan. “Cekidot!” Eh, salah, “Watch out!” teriak salah seorang polisi.

Hanya beberapa inci lagi sebelum mobil itu menabrak, kita “cut” dulu laga aksi dari kisah pengebom Boston. Sekarang mari kita analisa lebih detil lagi dari beberapa perspektif yang berbeda, kenapa bom boston terjadi. Ada beberapa aspek yang perlu dicurigai kenapa bom Boston terjadi. Mengapa kedua kakak beradik, Tamerlan dan Dzokhar melakukan aksi tersebut.

Kecurigaan yang paling kental adalah adanya konspirasi (fitnah) dibalik itu semua. Mengapa? Menengok latar belakang keduanya, adalah amat sangat mustahil kedua kakak beradik yang berasal dari Rusia itu berani melakukan hal tsb. Tamerlan dan Dzokhar bermigrasi ke Amerika Serikat lewat jalur udara (kalau lewat jalur darat, kelamaan) sekitar 10 tahun yang lalu. Keduanya mempunyai kehidupan sosial yang layaknya orang amerika pada umumnya. Walaupun keduanya muslim, mereka bersosialisasi layaknya masyarakat lainnya. Tamerlan yang mempunyai badan atletis, lengan berotot dan good looking alias tampan, menjadi idola di sekolahan dan lingkungannya. Malah dia sedang giat berlatih tinju untuk bisa menjadi wakil AS di olimpiade mendatang.

Kehidupan akademisnya pun cemerlang. Tidak nampak dari catatan akademisnya bahwa dia termasuk siswa yang ber IQ jongkok. Apalagi Tamerlan belum genap 3 tahun menikah dan dikaruniai seorang anak. Aliran Islamnya pun boleh dibilang moderat. Buktinya, dia hanya pergi ke masjid sesekali saja dalam rangka mengikuti pengajian hari minggu pagi. Jarang sholat 5 waktu dan sholat Jum’at. Bukti lainnya, dia tidak memelihara jenggot, seperti kebanyakan penganut Islam di Indonesia. Singkatnya dia adalah The True American alias Amerika tulen yang sudah mendapatkan american dream. Bagaimana dengan adiknya, Dzokhar Tsarnayev?

Apalagi adiknya, dia adalah remaja 19 tahun yang sedang gaul-gaulnya, baik di kehidupannya sehari-hari maupun di media sosial. Dia aktif main voli, pergi ke pesta, main game, menikmati hidup seperti kebanyakan remaja amerika. Tidak ada alasan kuat yang bisa mendorong remaja tersebut melakukan tindakan kekerasan.

Dugaan konspirasi ini semakin menguat manakala berita-berita tentang pengeboman di Boston sejak meledaknya dua unit panci tanggal 15 April 2013 lalu itu, hanya bisa diperoleh dari FBI atau polisi. Media-media elektronik seperti CNN, FOX, CNBC dll, tidak berhasil mendapatkan langsung dari tempat kejadian perkara. Terutama kejadian menegangkan ketika terjadi kejar-kejaran dan pertempuran sengit antara dua bersaudara Tsarnayev dan para polisi. Padahal media-media Amerika terkenal punya alat-alat yang canggih kalau hanya untuk sekedar meliput kejadian seperti itu. Berapa banyak kejadian kejar-kejaran dan tembak-menembak antara polisi dan penjahat berhasil direkam kamera melalui helikopter dan disiarkan ke publik, tapi kenapa tidak untuk yang satu ini?

Kejanggalan lainnya adalah bahwa ketika terjadi kejar-kejaran antara kakak-beradik Tsarnayev dan polisi, diberitakan bahwa kakak-beradik itu sempat melemparkan beberapa panci ke arah polisi tapi tidak meledak. Kenapa tidak meledak, sedangkan yang di acara maraton meledak?
Bayangkan juga tas yang mereka bawa kalau benar itu terjadi. Masak mau kabur saja masih sempat-sempatnya bawa beberapa panci? Dikabarkan juga mereka sempat melempari polisi dengan granat. Kok sampai sekarang gak ada narasumber atau saksi yang mendengar ledakan granat? Padahal kejadiannya di lingkungan yang padat penduduk? Terus, Kalau bisa beli granat, kenapa gak beli AK 47? Idelanya orang bisa beli granat pasti bisa kalo Cuma beli AK47 atau sejenisnya.

Mereka dikabarkan membunuh satpam MIT, tapi kenapa membiarkan lolos pemilik mobil yang mereka rampas? Bukankah mereka digambarkan sebagai kejam dan sadis oleh FBI dan siap membunuh siapa saja yang mereka mau?

Diceritakan juga oleh FBI atau polisi bahwa Tamerlan dan Dzokhar kehabisan peluru dan sang abang sempat dibekuk. Tapi ketika Dzokhar ketahuan bersembunyi di perahu yang sedang parkir di halaman orang, dikabarkan Dzokhar melawan dengan beberapa tembakan. Bukankah dirilis sebelumnya mereka sudah kehabisan peluru? Dan sekali lagi, yang memergoki Dzokhar adalah pemilik perahu. Kenapa pula Dzokhar membiarkan dirinya dipergoki si pemilik perahu, tanpa menembaknya? Bukankah Dzokhar digambarkan sebagai orang yang siap membunuh siapa saja yang berusaha menghalanginya?

Diperparah lagi dengan dengan luka-luka yang diderita Dzokhar di bagian tenggorokan (sehingga dia tidak bisa bicara) yang  mengundang kecurigaan bahwa luka tsb disengaja dilakukan oleh aparat, supaya Dzokhar tidak buka suara dan menceritakan bahwa dia adalah korban konspirasi.

Ngomong-ngomong, kenapa ada fihak-fihak yang mau repot-repot berkomplot melakukan pengeboman itu? Well.... karena mereka merasa sangat khawatir dengan perkembangan Islam yang sangat pesat di Amerika Serikat. Sejak peristiwa 9/11 (nine one-one) atau serangan terhadap WTC tanggal 11 September 2001, jumlah pemeluk Islam di AS bukannya anjlog, tapi malah meningkat berkali-kali lipat.  Bukalah Google dan ketikkan: The fastest growing religion in america. Maka akan bermunculan situs-situs, baik resmi maupun tidak resmi yang menyatakan bahwa Islam mendominasi Amerika dari segi perkembangan agama.

Para pelaku konspirasi (fitnah) itu berusaha untuk menyudutkan umat Islam bahwa Islam adalah agama teror, dengan memanfaatkan Tsarnayev bersaudara yang sedang marah berat dan membom sana-sini. Dengan demikian diharapkan minat orang-orang Amerika terhadap Islam akan bekurang.  Kalau konspirasi 9/11 malah mendongkrak bilangan penganut Islam, akankah konspirasi kali ini berhasil menekan perkembangan Islam, khususnya di Amerika? Kita lihat saja nanti.  

Baik, sebelum kita tutup analisa intelegen pribadi saya ini, kita lanjutkan kisah laga yang terpotong ketika Dzohar hendak menabrak para polisi yang sedang berusaha memborgol kakaknya, Tamerlan. Berhubung semua cerita di atas sumbernya adalah hasil editan FBI dan polisi dan bukannya oleh wartawan, maka ceritanya gak perlu dilanjutkan. Sebab bisa dipastikan, isinya lebih banyak akal-akalannya daripada benarnya.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar