Bom Panci: The Conspiracy
Beberapa hari ini dunia dihebohkan oleh berita tentang dua unit panci
yang meledak di kerumunan orang yang sedang menyaksikan lomba maraton tahunan
di Boston, Amerika Serikat. Panci yang meleduk itu bukan panci yang lagi digunakan
memasak bakso, tapi panci itu adalah jenis panci tekan (pressure cooker) yang
sudah diisi bubuk mesiu dan dicampur dengan paku dan gotri. Akibatnya 3 orang
tewas, ratusan luka-luka. Amerika pun
spontan kaget. Mereka tidak percaya, negara yang dipercaya sebagai tempat yang
adem ayem, aman-tentram, karto raharjo, gemah-ripah serta loh jinawi itu ternyata
terkoyak juga oleh aksi teror. Bagaimana tidak? Sejak kejadian 11 September 2001, screening
yang dilakukan aparat AS terhadap segala individu yang “kira-kira” punya
potensi menjadi bahan peledak, amat-amat sangat ketat sekali. Sehingga bisa
dijamin sang individu dengan ciri-ciri tersebut tidak akan bisa melewati
imigrasi USA.
Hanya beberapa saat setelah pengeboman itu, media Amerika lantas
melansir berbagai spekulasi, siapa pelaku ledakan tsb. Ada yang berspekulasi
bahwa pelakunya adalah teroris kawakan, ada juga yang mengatakan pelakunya
adalah organisasi sayap kanan Amerika. Tentu saja, Al Qaeda tak luput dari
tuduhan. Tapi para analis meragukan kalau tindakan itu adalah hasil karya Al
Qaeda, mengingat pola serangannya berbeda. Al Qaeda punya ciri khas melakukan
teror dengan teknik bunuh diri atau bom bunuh diri. Dalam buku panduan Al
Qaeda, entah itu targetnya satu orang atau dua ribu orang, metode pengeboman
yang digunakan adalah pelakunya harus ikut gugur dalam tugas. Sementara di
kejadian di Boston, tidak ada serpihan tubuh manusia akibat bom bunuh diri.
Bagaimana dengan Taliban? Taliban termasuk kelompok yang paling pertama
menyangkal keterlibatannya dalam serangan itu. Mungkin mereka sudah trauma,
gara-gara WTC runtuh tahun 2001 lalu, lantas Taliban dijadikan pelampiasan
kemarahan Amerika. “Wah, jangan sampai Amerika ngamuk lagi di Afghanistan,
hanya gara-gara panci meletus”. Begitu mungkin para pentolan Taliban
bermusyawarah.
Sebelum spekulasi berkembang lebih jauh, aparat berwenang Amerika,
dalam hal ini FBI, cepat-cepat bertindak. Gampang saja. Seluruh kamera yang
secara sengaja atau tidak sengaja merekam acara maraton itu diminta untuk dianalisa
FBI. Hasilnya pun dengan cepat diperoleh. Pelakunya adalah dua orang pemuda
bertopi hitam dan satunya bertopi putih. Gambar kedua orang itupun lantas
disebar ke berbagai media dan masyarakat dihimbau bantuannya.
Tidak sampai 2 jam, indentitas pelaku akhirnya diketahui berkat laporan
dari masyarakat. Ternyata pelaku adalah dua kakak beradik Tamerlan Tsarnayev
dan Dzokhar Tsarnayev. Pencarian besar-besaran pun segera dilakukan. Pada saat
yang bersamaan di Massacuchet Institute Technology (MIT), di mana keduanya
bersembunyi, ada seorang satpam, Sean Collier, yang mengetahui keberadaan kedua
tersangka di area kampus. Instink security Sean muncul begitu melihat kedua
kakak beradik tsb. Seperti di film-film Holywood, kedua tersangka pun melakukan
perlawanan dan berakhir dengan tertembaknya si satpam, yang akhirnya tewas di
tempat.
Kemudian kedua tersangka merampas sebuah mobil yang sedang berhenti dan
masih ada pengemudinya. Mereka membajak mobil SUV tersebut dan mengajak sang
pengemudi berkeliling kota. 30 menit kemudian si sopir disuruh keluar dan
mereka pun kabur. Begitu bebas, sopir yang sekaligus pemilik mobil itu langsung
mengontak polisi. Kejar-kerjaran pun terjadi sampai masuk wilayah Watertown.
Kedua Tsarnayev melawan habis-habisan menembaki polisi sambil melemparkan
panci-panci yang sudah dirakit menjadi bom.
Tapi anehnya panci-panci itu tidak meledak. Klontang... klontang...
begitu bunyinya. Sama seperti di Indonesia, klontang.... klontang juga bunyi
panci jatuh.
OK. Kita lanjut. Karena terpojok dan kehabisan peluru, keduanya lantas
kabur meninggalkan mobil dan berlari dalam kegelapan malam. Polisi-polisi pun
dengan semangat terus mengejar keduanya. Apalagi mereka sudah terkena tembakan
dan tak mungkin lari jauh. Beda dengan polisi Indonesia yang lebih suka
langsung menembak tersangka terorisme yang sudah terluka, polisi amerika lebih
suka balapan lari dulu dengan para pelaku kejahatan yang melarikan diri. Karena
kalah jumlah, Tamerlan yang sehari-hari berprofesi sebagai petinju, terpojok di
suatu tempat. Menurut SOP polisi amrik, buronan yang sudah
terpojok harus ditabrak bodinya sampai jatuh telungkup di atas tanah. Maka para
polisi itupun berebut menabrak Tamerlan yang bertampang ganteng itu sampai
terjerembab di atas rerumputan halaman rumah orang. Kasihan.
Ketika para polisi berusaha memborgol Tamerlan, tiba-tiba dari
kegelapan sebuah mobil menderu, mengebut, melaju ke arah mereka. Ternyata mobil
itu adalah mobil SUV yang dibajak tadi dan ternyata adik Tamerlan, Dzokhar ada
di dalamnya mengemudikan mobil tsb. Dengan kecepatan penuh mobil tersebut
melaju ke arah para polisi yang sedang sibuk hendak memborgol Tamerlan.
“Cekidot!” Eh, salah, “Watch out!” teriak salah seorang polisi.
Hanya beberapa inci lagi sebelum mobil itu menabrak, kita “cut” dulu
laga aksi dari kisah pengebom Boston. Sekarang mari kita analisa lebih detil
lagi dari beberapa perspektif yang berbeda, kenapa bom boston terjadi. Ada
beberapa aspek yang perlu dicurigai kenapa bom Boston terjadi. Mengapa kedua
kakak beradik, Tamerlan dan Dzokhar melakukan aksi tersebut.
Kecurigaan yang paling kental adalah adanya konspirasi (fitnah) dibalik
itu semua. Mengapa? Menengok latar belakang keduanya, adalah amat sangat
mustahil kedua kakak beradik yang berasal dari Rusia itu berani melakukan hal
tsb. Tamerlan dan Dzokhar bermigrasi ke Amerika Serikat lewat jalur udara
(kalau lewat jalur darat, kelamaan) sekitar 10 tahun yang lalu. Keduanya
mempunyai kehidupan sosial yang layaknya orang amerika pada umumnya. Walaupun
keduanya muslim, mereka bersosialisasi layaknya masyarakat lainnya. Tamerlan yang
mempunyai badan atletis, lengan berotot dan good looking alias tampan, menjadi
idola di sekolahan dan lingkungannya. Malah dia sedang giat berlatih tinju
untuk bisa menjadi wakil AS di olimpiade mendatang.
Kehidupan akademisnya pun cemerlang. Tidak nampak dari catatan
akademisnya bahwa dia termasuk siswa yang ber IQ jongkok. Apalagi Tamerlan
belum genap 3 tahun menikah dan dikaruniai seorang anak. Aliran Islamnya pun
boleh dibilang moderat. Buktinya, dia hanya pergi ke masjid sesekali saja dalam
rangka mengikuti pengajian hari minggu pagi. Jarang sholat 5 waktu dan sholat
Jum’at. Bukti lainnya, dia tidak memelihara jenggot, seperti kebanyakan
penganut Islam di Indonesia. Singkatnya dia adalah The True American alias
Amerika tulen yang sudah mendapatkan american dream. Bagaimana dengan adiknya,
Dzokhar Tsarnayev?
Apalagi adiknya, dia adalah remaja 19 tahun yang sedang gaul-gaulnya,
baik di kehidupannya sehari-hari maupun di media sosial. Dia aktif main voli,
pergi ke pesta, main game, menikmati hidup seperti kebanyakan remaja amerika. Tidak
ada alasan kuat yang bisa mendorong remaja tersebut melakukan tindakan
kekerasan.
Dugaan konspirasi ini semakin menguat manakala berita-berita tentang
pengeboman di Boston sejak meledaknya dua unit panci tanggal 15 April 2013 lalu
itu, hanya bisa diperoleh dari FBI atau polisi. Media-media elektronik seperti
CNN, FOX, CNBC dll, tidak berhasil mendapatkan langsung dari tempat kejadian
perkara. Terutama kejadian menegangkan ketika terjadi kejar-kejaran dan
pertempuran sengit antara dua bersaudara Tsarnayev dan para polisi. Padahal
media-media Amerika terkenal punya alat-alat yang canggih kalau hanya untuk
sekedar meliput kejadian seperti itu. Berapa banyak kejadian kejar-kejaran dan
tembak-menembak antara polisi dan penjahat berhasil direkam kamera melalui
helikopter dan disiarkan ke publik, tapi kenapa tidak untuk yang satu ini?
Kejanggalan lainnya adalah bahwa ketika terjadi kejar-kejaran antara
kakak-beradik Tsarnayev dan polisi, diberitakan bahwa kakak-beradik itu sempat
melemparkan beberapa panci ke arah polisi tapi tidak meledak. Kenapa tidak
meledak, sedangkan yang di acara maraton meledak?
Bayangkan juga tas yang mereka bawa kalau benar itu terjadi. Masak mau
kabur saja masih sempat-sempatnya bawa beberapa panci? Dikabarkan juga mereka
sempat melempari polisi dengan granat. Kok sampai sekarang gak ada narasumber
atau saksi yang mendengar ledakan granat? Padahal kejadiannya di lingkungan
yang padat penduduk? Terus, Kalau bisa beli granat, kenapa gak beli AK 47?
Idelanya orang bisa beli granat pasti bisa kalo Cuma beli AK47 atau sejenisnya.
Mereka dikabarkan membunuh satpam MIT, tapi kenapa membiarkan lolos pemilik
mobil yang mereka rampas? Bukankah mereka digambarkan sebagai kejam dan sadis
oleh FBI dan siap membunuh siapa saja yang mereka mau?
Diceritakan juga oleh FBI atau polisi bahwa Tamerlan dan Dzokhar
kehabisan peluru dan sang abang sempat dibekuk. Tapi ketika Dzokhar ketahuan
bersembunyi di perahu yang sedang parkir di halaman orang, dikabarkan Dzokhar
melawan dengan beberapa tembakan. Bukankah dirilis sebelumnya mereka sudah
kehabisan peluru? Dan sekali lagi, yang memergoki Dzokhar adalah pemilik perahu.
Kenapa pula Dzokhar membiarkan dirinya dipergoki si pemilik perahu, tanpa
menembaknya? Bukankah Dzokhar digambarkan sebagai orang yang siap membunuh
siapa saja yang berusaha menghalanginya?
Diperparah lagi dengan dengan luka-luka yang diderita Dzokhar di bagian
tenggorokan (sehingga dia tidak bisa bicara) yang mengundang kecurigaan bahwa luka tsb
disengaja dilakukan oleh aparat, supaya Dzokhar tidak buka suara dan
menceritakan bahwa dia adalah korban konspirasi.
Ngomong-ngomong, kenapa ada fihak-fihak yang mau repot-repot berkomplot
melakukan pengeboman itu? Well.... karena mereka merasa sangat khawatir dengan
perkembangan Islam yang sangat pesat di Amerika Serikat. Sejak peristiwa 9/11
(nine one-one) atau serangan terhadap WTC tanggal 11 September 2001, jumlah
pemeluk Islam di AS bukannya anjlog, tapi malah meningkat berkali-kali
lipat. Bukalah Google dan ketikkan: The
fastest growing religion in america. Maka akan bermunculan situs-situs, baik
resmi maupun tidak resmi yang menyatakan bahwa Islam mendominasi Amerika dari
segi perkembangan agama.
Para pelaku konspirasi (fitnah) itu berusaha untuk menyudutkan umat
Islam bahwa Islam adalah agama teror, dengan memanfaatkan Tsarnayev bersaudara
yang sedang marah berat dan membom sana-sini. Dengan demikian diharapkan minat
orang-orang Amerika terhadap Islam akan bekurang. Kalau konspirasi 9/11 malah mendongkrak
bilangan penganut Islam, akankah konspirasi kali ini berhasil menekan
perkembangan Islam, khususnya di Amerika? Kita lihat saja nanti.
Baik, sebelum kita tutup analisa intelegen pribadi saya ini, kita
lanjutkan kisah laga yang terpotong ketika Dzohar hendak menabrak para polisi
yang sedang berusaha memborgol kakaknya, Tamerlan. Berhubung semua cerita di
atas sumbernya adalah hasil editan FBI dan polisi dan bukannya oleh wartawan,
maka ceritanya gak perlu dilanjutkan. Sebab bisa dipastikan, isinya lebih
banyak akal-akalannya daripada benarnya.
Wassalam





Tidak ada komentar:
Posting Komentar